Dari jauh ia angkat tangan, menyapa susuk kurus yang sedang melangkah perlahan mendatanginya. Ada riak gemuruh melekat di wajahnya; wajah tua itu menyedih. Entah sudi diterima entahkan tidak. Selama ini hidupnya hanya menyusah tanpa dia benar-benar peduli. Sekarang apatah lagi; kudratnya hanya tinggal tulang kering yang bisa retak sekali hentak, rapuh sudah.
Senyuman itu tidak menutup bahasa mata yang menghantar kata-kata aku akan menjagamu, bapa. Harus bagaimana lagi.
Dia menyedih. Air mata yang laju mengaburi mata tidak disekanya. Perlahan dia mampir, memeluk erat tubuh kurus di hadapannya. Yang terasa cuma baju tebalnya bersama sisa salji yang terbawa sekali dari negeri orang. Suaranya serak melagukan rindu dan ucap syukur. Tiada kata yang membalas, hanya suam tangan yang terasa mengusap perlahan belikatnya.
Yang tertayang dalam kepala mereka hanyalah tahun-tahun sudah yang penuh duka.
pedih!
BalasPadam